Monday, March 30, 2015

TEORI KETERGANTUNGAN (DEPENDENSI)

Teori dependensi lahir sebagai hasil "revolusi intelektual" secara umum pada pertengahan tahun 60-an sebagai tantangan para ilmuwan Amerika Latin terhadap pandangan Barat mengenai pembangunan. Teori ini merupakan kritik terhadap teori modernisasi. Dasar pemikiran teori ini adalah pandangan Marx tentang masyarakat sebagai satu kesatuan sistem atas dua struktur utama: struktur atas dan bawah dimana struktur atas yang berupa sistem budaya, ideologi, politik dan sosial digerakkan oleh struktur bawah yang merupakan sistem ekonomi. Teori ini melihat ketidakseimbangan dalam hubungan antara Negara Dunia Ketiga dengan Negara Dunia Pertama karena mereka akan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral. Sebagai hasilnya, Negara Dunia Ketiga menjadi miskin, terbelakang, dan kondisi politik ekonominya tidak stabil. Hal ini adalah pemikirannya Paul Baran, salah satu tokoh teori dependensi. Ia mengelompokkan ‘dua dunia' tersebut sebagai negara kapitalis (negara pusat) dan pra-kapitalis (kapitalis pinggiran)-yang tidak akan pernah bisa menjadi besar.   Sedangkan Andre Gunder Frank membagi negara-negara di dunia ini atas dua kelompok yaitu negara metropolis maju dan negara-negara satelit yang terbelakang.                    Hubungan ketergantungan seperti ini disebut Frank sebagai metropolis-satelite relationship. Menurutnya, suatu pembangunan di negara satelit dipengaruhi oleh 3 komponen utama, yaitu modal asing, pemerintah lokal negara satelit, dan kaum borjuis lokal. Hasil pembangunan hanya terjadi di tiga kalangan tersebut, sedangkan rakyat kecil hanya sebagai buruh. Baran dan Frank menyarankan agar Negara Dunia Ketiga harus melakukan industrialisasi sendiri, tidak mengimpor teknologi, meninjau hutang dan perdagangan dengan negara pusat. Dos Santos juga menyatakan, mirip dengan Prebisch, bahwa hubungan antara negara dominan dengan negara tergantung merupakan hubungan yang tidak sederajat, karena pembangunan di negara dominan terjadi atas biaya yang dibebankan pada negara bergantung. Melalui kegiatan pasar yang monopolistik dalam hubungan perdagangan internasional, hubungan utang-piutang dan ekspor modal dalam hubungan perdagangan modal, surplus ekonomi yang dihasilkan di negara tergantung mengalir dan berpindah ke negara dominan. Menurut Santos, dua bentuk ketergantungan pertama, adalah ketergantungan kolonial dan ketergantungan industri keuangan, selain itu ia pun menyebutkan jenis ketergantungan yang lain yaitu ketergantungan teknologis-industrial.                Packenham menyebutkan kekuatan teori dependensi yakni menekankan pada aspek internasional, mengaitkan perubahan internal negara pinggiran dengan politik luar negeri negara maju, menekankan pada kegiatan sektor swasta dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan-perusahaan multinasional, membahas hubungan antar kelas yang ada di dalam negeri dan hubungan kelas antarnegara dalam konteks internasional, memberikan definisi yang berbeda tentang pembangunan ekonomi (tentang kelas-kelas sosial, antardaerah, dan antarnegara). Namun, kelemahannya antara lain: hanya menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab dari ketergantungan, konsep kunci-termasuk konsep ketergantungan itu sendiri-kurang didefinisikan secara jelas hanya didefinisikan sebagai konsep dikotomi, tidak ada kemungkinan lepas dari ketergantungan, selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif, kurang membahas aspek psikologi, terlalu jauh beranggapan bahwa ada kepentingan yang berbeda antara negara-negara pusat dan negara-negara pinggiran, ketidakjelasan konsep yang  membatasi teori tersebut, menganggap aktor politik sebagai boneka kepentingan modal asing, kurang dikaji secara rinci dan tajam dan dalam konteks Timur, teori ini tidak mampu melihat fenomena bangkitnya negara-negara "Macan Asia" dan runtuhnya sosialisme.                     Bila teori dependensi Klasik melihat situasi ketergantungan sebagai suatu fenomena global dan memiliki karakteristik serupa tanpa megenal batas ruang dan waktu, teori dependensi Baru melihat melihat situasi ketergantungan tidak lagi semata disebabkan faktor eksternal, atau sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regional dan keterbelakangan. Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan juga merupakan persoalan sosial politik.

a.Pengertian dan Asumsi-asumsi                  Dos Santos mengemukakan ketergantungan merupakan keadaan dimana perekonomian negara-negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara-negara lain, dimana negara-negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja. Hubungan ketergantungan terjadi bila negara yang dominan dapat memperluas dan mempertahankan diri, tapi sebaliknya tidak terjadi pada negara pinggiran.          

 Asumsi-asumsi dasar teori dependensi mencakup:

 A. Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang universal, berlaku bagi seluruh negara dunia Ketiga.

B. Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor luar eksternal.C. Situasi ketergantungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global.D. Keadaan ketergantungan dilihat sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan pembangunan. E. Perkembangan masyarakat didasarkan atas konflik yang terjadi. Konflik-konflik yang tercipta justru membawa perubahan masyarakat secara global.F. Solusi yang dikemukakan teori ketergantungan klasik bahkan melepaskan diri dari hubungan dengan negara maju (berdikari)

b.Implikasi


               Implikasi kebijaksanaan pembangunan dengan model dependensi di antaranya adalah negara pinggiran harus memutuskan hubungan dengan negara sentral. Seperti saran Baran dan Frank di atas, hal itu demi berkurang atau bahkan menghilangnya intervensi dan pengaruh asing di negara yang didominasi. Dengan begitu, negara pinggiran akan berusaha mandiri. Mengingat negara sentral sekarang adalah negara-negara maju yang menganut paham liberal-kapitalis, maka dengan berkurangnya pengaruh mereka tumbuhlah benih-benih sosialisme.Yang memungkinkan terjadinya revolusi sosialis di tubuh negara pinggiran. Maka, negara-negara yang memakai teori ini akan-kalau tidak disebut berpatokan-mengarah pada perwujudan sosialisme, seperti akar historis kelahiran teori ini.

http://pesantrenbudaya.com/

No comments:

Post a Comment